News
Home / News

SHALAT BUAH TANGAN PERISTIWA ISRA’MI’RAJ

17 Maret 2022 Written by Administrator Hits: 96

Menurut penanggalan Islam, peringatan Isra’ Mi’raj tepat jatuh pada tanggal 27 Rajab 1443 Hijriah, pada kalender Masehi tepat pada hari Senin 28 Februari 2022.Dan Pemerintah telah menetapkan peristiwa ini sebagai Hari Libur Nasional. Peristiwa Isra’ Mi’raj ini pun menjadi peringatan istimewa bagi kaum muslim, mengingat dari besarnya hikmah yang dapat di petik dari peristiwa tersebut. Peristiwa Isra’merupakan perjalanan menembus ruang dan waktu dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa di Palestina dalam waktu singkat, dilanjutkan dengan peristiwa Mi’raj yang merupakan perjalanan menuju Sidratul Muntaha, tempat Rasulullah menerima perintah salat. Pada peristiwa malam Isra’ Mi’raj, Rasulullah di pertemukan dengan Ayah para nabi Ibrahim As. Dalam pertemuan tersebut ada suatu kalimat yang sangat berharga yang di ucapkan Nabi Ibrahim alaihisalam kepada Nabi Muhammad SAW. Nabi Ibrahim as berpesan kepada Nabi Muhammad SAW agar memperbanyak bacaan dzikir yang kelak akan menjadi tanaman surga. Hingga Rasulullah pun bertanya apakah itu tanaman surga (ghirosul jannah). Nabi Ibrahim pun menjawab, “Laa hawla wa laa quwwata illa billah’. Kalimat tersebut merupakan salah satu bentuk dzikrullah yang sangat ringan di ucapkan namun berat bobotnya saat di timbang kelak di akhirat. Dari perjalananan singkat itu Rasulullah SAW membawa buah tangan yang tak habis dimakan waktu.

Ya, Shalat merupakan buah tangan dari perjalanan yang dilakukan Rasulullah SAW pada malam itu bagi umatnya. Selain itu, Shalat merupakan salah satu bentuk dzikir dan berserah diri kepada Allah. Pada momentum peringatan isra’ mi’raj ini, SD An Nisaa’ khususnya para Guru berharap para siswa lebih giat lagi dalam melaksanakan dan menjaga shalatnya di tengah pandemi yang saat ini masih melanda negri. Dengan demikian keselamatan dan kesehatan semakin terjaga dengan rutin membersihkan diri sebelum melakukan ibadah shalat. Selain itu, Shalat pun merupakan pembeda antara kaum yang beriman dan ingkar dan menjadi urutan pertama dalam Rukun Islam.